Diterbitkan pada 02 Februari 2026

Digitalisasi Pembelajaran Ubah Cara Siswa Memahami Sains di Sekolah

Guru menjelaskan teori kinetik gas kepada siswa menggunakan papan interaktif digital di ruang kelas sekolah menengah.

Penulis: Hairul

koranindopos.com – Jakarta. Pembelajaran sains di sekolah yang sebelumnya identik dengan hafalan rumus kini mulai bertransformasi menuju pemahaman konsep yang lebih mendalam. Pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) memungkinkan materi abstrak, seperti teori kinetik gas, divisualisasikan secara konkret sehingga lebih mudah dipahami oleh peserta didik.

Transformasi metode belajar tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui program Digitalisasi Pembelajaran. Program ini mendorong penerapan pendekatan deep learning agar siswa tidak sekadar mengingat rumus, tetapi mampu memahami proses ilmiah secara utuh dan kontekstual.

Manfaat penggunaan PID dirasakan langsung di ruang kelas. Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, menyampaikan bahwa papan interaktif digital membantu guru menjelaskan konsep sains yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh siswa.

“Pada materi teori kinetik gas, khususnya hukum Boyle, siswa kini tidak lagi hanya menghafal hubungan antara tekanan, volume, dan suhu. Melalui papan interaktif digital, mereka dapat melihat visualisasi pergerakan partikel secara langsung,” ujar Pudyo dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, simulasi yang ditampilkan melalui PID memungkinkan siswa mengamati peningkatan tekanan saat partikel gas dipadatkan dalam suatu wadah, lengkap dengan indikator tekanan yang meningkat. Visualisasi ini membantu siswa memahami konsep ilmiah secara logis dan lebih mudah dicerna.

Hingga Januari 2026, seluruh sekolah di Provinsi Sumatra Selatan dilaporkan telah menerima bantuan PID. Di tingkat satuan pendidikan, pemanfaatannya dilakukan secara kolaboratif melalui komunitas belajar guru. Di SMAN 1 Indralaya, tim penjaminan mutu sekolah bahkan mengembangkan proyek percontohan serta melakukan pengimbasan kepada guru lain, termasuk menyusun standar operasional penggunaan perangkat agar tetap awet dan optimal.

Pengalaman serupa disampaikan Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, Marion, yang menilai PID menjadi sarana penting dalam menghadirkan variasi pembelajaran seiring perkembangan teknologi. Ia menambahkan, siswa tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi karena sistem PID berbasis Android yang sudah akrab dengan keseharian mereka.

Sementara itu, Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, Desi Huswinda, menilai kehadiran PID mampu menciptakan suasana kelas yang lebih dinamis dan menyenangkan, khususnya bagi siswa sekolah dasar di wilayah pedesaan. Menurutnya, pemanfaatan PID menjadi langkah nyata dalam menghadirkan akses pendidikan yang setara, termasuk bagi sekolah yang sebelumnya memiliki keterbatasan fasilitas pembelajaran.

Implementasi Digitalisasi Pembelajaran melalui PID menegaskan arah kebijakan Kemendikdasmen yang menempatkan teknologi sebagai sarana penguat pembelajaran bermakna, bukan sekadar tujuan. Teknologi dimanfaatkan untuk menumbuhkan daya pikir kritis, memperkuat pemahaman konseptual, serta menyesuaikan proses belajar dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan zaman.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa program Digitalisasi Pembelajaran dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan, tetapi juga untuk menjangkau wilayah dengan tantangan geografis.

“Digitalisasi Pembelajaran menjangkau lebih dari 288.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Kami berharap pemenuhan sarana prasarana ini menjadi semangat bersama untuk menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu,” ujarnya.

Ia menambahkan, khusus untuk daerah yang sulit dijangkau, pemerintah menyediakan paket bantuan lengkap. “Kami tidak hanya mengirimkan PID, tetapi juga membantu penyediaan listrik dan jaringan internet melalui Starlink, sehingga perangkat dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembelajaran, termasuk pembelajaran jarak jauh,” pungkas Abdul Mu’ti. (hai)