Jakarta – Di tengah upaya pemerataan kualitas pendidikan, pemanfaatan teknologi digital oleh sekolah menjadi semakin penting. Melalui inovasi pembelajaran yang adaptif dan inklusif, sekolah teladan digital berperan membuka akses pendidikan yang lebih merata dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pada 2025, Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas. Program ini bertujuan untuk mempercepat transformasi digital pendidikan nasional dan menghadirkan layanan pembelajaran interaktif, menyenangkan, dan merata di seluruh Indonesia.
Program digitalisasi ini terdiri dari penyediaan papan interaktif digital, laptop, materi pembelajaran, dan pelatihan bagi para guru. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga meluncurkan Rumah Pendidikan untuk menyatukan berbagai layanan pendidikan digital dalam satu pintu.
Rumah Pendidikan terdiri atas delapan ruang terintegrasi dengan konten video pembelajaran interaktif, artikel, laboratorium maya, gim edukasi, hingga latihan soal. Program ini memudahkan guru dan peserta didik dalam mengakses berbagai sumber belajar digital.
Namun, program digitalisasi pendidikan ini tidak bisa terlepas dari konektivitas digital. Akses internet yang stabil dan merata masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Keterbatasan jaringan di wilayah 3T kerap menghambat terlaksananya digitalisasi pendidikan secara optimal.
Upaya menghadirkan konektivitas digital yang merata tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital RI (BAKTI Komdigi) terus mendorong pembangunan infrastruktur digital, khususnya lewat program Universal Service Obligation (USO) di wilayah 3T.
Di sisi lain, sektor swasta berkontribusi lewat inovasi teknologi dan investasi. Tak kalah penting, peran aktif masyarakat juga menjadi kunci agar konektivitas digital benar-benar berdampak luas dan berkelanjutan.
Untuk mendorong keterlibatan publik dalam memperkuat konektivitas digital nasional, detikcom menggelar Apresiasi Konektivitas Digital. Ajang penghargaan ini ditujukan bagi individu, komunitas, maupun lembaga yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam memperluas akses teknologi dan informasi di Indonesia, terutama di wilayah 3T.
Seiring antusiasme masyarakat, periode pengajuan nominasi diperpanjang hingga 28 Februari 2026. Perpanjangan ini memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk mengusulkan sosok atau pihak inspiratif yang selama ini bekerja menghadirkan manfaat konektivitas digital bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui Apresiasi Konektivitas Digital, detikcom akan menyoroti berbagai kisah dedikasi dan inovasi yang lahir dari akar rumput, mulai dari penggerak komunitas, relawan, hingga lembaga yang konsisten membuka akses teknologi hingga pelosok negeri.