Diterbitkan pada 05 Februari 2026

Sekolah Terdampak Bencana Mulai Pakai Papan Interaktif

Perangkat papan interaktif digital tersebut dinilai membantu pemulihan pembelajaran di tengah keterbatasan sarana pascabencana.

SEJUMLAH sekolah di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang terdampak bencana banjir mulai kembali menjalankan aktivitas belajar mengajar dengan memanfaatkan papan interaktif digital (PID) atau interactive flat panel (IFP). Perangkat digital tersebut dinilai membantu pemulihan pembelajaran di tengah keterbatasan sarana pascabencana.

Pemanfaatan IFP terlihat di SMAN 2 Timang Gajah, SDN Karang Jadi, serta SMP Muhammadiyah 11 Teritit. Ketiga sekolah tersebut sempat mengalami gangguan pembelajaran akibat akses jalan terputus dan kerusakan fasilitas sekolah akibat banjir.

Kepala SMAN 2 Timang Gajah Ikhsan Purnama mengatakan kehadiran IFP berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran. Menurut dia, perangkat tersebut langsung diaktifkan untuk mendukung pembelajaran mendalam setelah sekolah kembali beroperasi.

“Dengan adanya IFP sangat membantu pembelajaran guru. Proses belajar menjadi lebih terarah dan siswa juga lebih antusias,” kata Ikhsan dikutip dari keterangan resmi pada Senin, 2 Februari 2026.

Ia mengatakan, meski penggunaannya masih bergantian, pihak sekolah mewajibkan guru memanfaatkan IFP dalam kegiatan belajar mengajar. Selain memudahkan guru, IFP juga mendorong siswa lebih aktif, terutama saat presentasi karena layar dapat disentuh langsung layaknya gawai.

Bencana banjir sebelumnya sempat menghentikan aktivitas pembelajaran di sekolah tersebut. Ikhsan mencatat sedikitnya 15 siswa terdampak, bahkan beberapa di antaranya kehilangan tempat tinggal akibat rumah hanyut terbawa banjir. Sekolah bersama guru berinisiatif memberikan bantuan kepada siswa terdampak.

Kepala SDN Karang Jadi M. Ghazali mengatakan IFP mulai digunakan dua pekan terakhir meski pembelajaran masih dilakukan di tenda darurat. Ia menyebut perangkat tersebut sangat membantu menjaga semangat belajar siswa di tengah kondisi pascabencana. “Sekarang IFP sudah dipakai, kami pasang di tenda belajar. Ini bantuan dari Bapak Presiden Prabowo,” ujar Ghazali.

Dari total 12 kelas di SDN Karang Jadi, enam kelas menggunakan IFP secara bergantian. Kendala pemindahan perangkat antarkelas disebabkan oleh kontur lokasi sekolah. Meski demikian, antusiasme siswa dinilai tinggi. “Para siswa sangat antusias, semua ingin maju ke depan untuk belajar menggunakan IFP,” kata Ghazali.

Pengalaman serupa juga dirasakan SMP Muhammadiyah 11 Teritit yang sempat terisolasi hampir tiga pekan akibat akses jalan terputus. Kepala sekolah, Habsah, menyebut ketersediaan IFP sebelum bencana sangat membantu keberlangsungan pembelajaran di tengah keterbatasan.

“Kami bersyukur IFP sudah tersedia sebelum bencana. Alat ini sangat membantu proses belajar di tengah keterbatasan akses,” ujar Habsah.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan pemanfaatan IFP menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan pembelajaran di wilayah terdampak bencana, sekaligus mendorong kualitas pembelajaran berbasis teknologi di daerah.